BRIMOB KUKUHKAN ALEX NOERDIN SEBAGAI WARGA KEHORMATAN

Ulang Tahun Korps Brimob di Sumsel tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Lebih semarak dan berkesan. Bukan karena suguhan antraksi yang mereka tampilkan sangat mahir dan memukau, tetapi juga ada momen yang sangat bersejarah bagi keluarga besar Brimob yaitu pengukuhan Alex Noerdin, Bupati Musi Banyuasin menjadi Warga Kehormatan Korps Brimob.

brimob.jpg

Dalam sejarah Korps Brimob di tanah air, satu-satunya warga sipil pertama yang memperoleh anugerah Warga Kehormatan Brimob adalah Alex Noerdin, Bupati Musi Banyuasin. Sebelumnya yang diangkat menjadi Warga Kehormatan hanyalah para pejabat dilingkungan TNI dan Polri sendiri.

“Inilah Warga Kehormatan Brimob pertama dari kalangan Sipil”, ujar Kapolda memberi apresiasi kepada Alex.

Ulang tahun Brimob tahun ini, khususnya yang digelar Polda Sumsel berlangsung meriah. Kapolda yang menjadi Inspektur Upacara menyampaikan sambutan Kapolri yang meminta korps Brimob agar mampu menunjukan keteladanannya kepada masyarakat.

“Brimob diharapkan juga bisa tampil sebagai institusi yang taat hukum dan terpuji guna mengabdi kepada nusa dan bangsa”, tegasnya.

Usai Upacara dilanjutkan dengan prosesi pengukuhan Alex Noerdin menjadi warga kehormatan melalui pemasangan baret oleh Kapolda dan pemakaian Jaket oleh Wakapolda. Selanjutnya Alex diangkat ramai-ramai oleh anggota Brimob yang telah menganggapnya resmi sebagai anggota keluarga besarnya.

Pada kesempatan tersebut Alex memberikan kesempatan kepada tiga pasangan anggota brimob untuk menunaikan Ibadah Umrah.

Selamat.

Alex Terima Penghargaan Mode

Dinilai telah berperan banyak dalam dunia Model di Indonesia khususnya di Sumatera Selatan, Yayasan Pembina Mode Indonesia (YAPMI) Sumatera Selatan memberikan penghargaan khusus kepada Alex Noerdin dan Ny.Eliza berupa Penghargaan Insan Pemerhati Mode Indonesia Sumsel 2007 yang acara penganugerahannya dilakukan pada Grand Final Supermodel Yapmi ke-12 Tahun 2007 di Hotel Horison Palembang.

model.jpg

MenurutKetua YAPMI Sumsel, Bob Toteley, Alex Noerdin sangat berperan dalam dunia Mode di Sumatera Selatan. Ia sebagai Bupati Muba mensuport penuh dunia medeling khususnya dan kegiatan generasi muda sumsel pada umumnya.

“Sebelumnya dunia modeling di Sumsel bagaikan mati suri. Namun semenjak Pak Alex jadi Bupati Muba, dunia mode disisni gairah kembali”, ujar Bob yang telah lama menggeluti dunia modeling cukup lama ini.

Selain Alex Noerdin dan Isteri, pihak yang juga mendapat anugerah dari Yapmi Sumsel dalam kesempatan tersebut adalah Wakapolda Sumsel, Brigjen Pol.Marsudi Hanafi.

ELITE PAGUYUBAN BAKAL DIPERMALUKAN WARGANYA

paguyuban.jpg

Munculnya dukungan Elite Paguyuban di Sumatera Selatan terhadap salah satu bakal calon Gubernur Sumsel akhir-akhir ini bukanlah merupakan cerminan aspirasi warga paguyuban. Bahkan justru menunjukkan terjadinya perbedaan cara berpikir yang dilandasi oleh latar belakang kepentingan, serta ketidak pekaan para elite politik terhadap keinginan warganya.

Sejak awal, keberadaan paguyuban memang bukanlah suatu wadah politis yang bisa dengan mudah menghimpun suara untuk kemenangan seseorang. Paguyuban berdiri hanya karena didasari kesamaan nasib sebagai warga pendatang yang perlu wadah untuk bersilaturahmi semata. Sedangkan aspirasi politik dan hati nurani mereka sama sekali tidak akan bisa dipengaruhi oleh kehendak para elite paguyuban yang memanfaatkan amanah untuk keuntungan pribadi.

“Warga paguyuban kan bukan ayam negeri yang dengan mudah dihuntal-huntal”, ujar Mansur warga OKU yang telah puluhan tahun menetap di Palembang. “Kalau bebek mudah, tinggal giring saja. Tapi ini manusia”, ujarnya lagi.

Pendapat yang sama juga diakui Supardi warga pendatang asal Jawa yang juga ikut dalam Paguyuban. Menurutnya, jangankan menyuruh orang banyak, dalam satu rumah saja sekarang ini kita tidak bisa menjamin mereka akan menuruti kita jika kita perintahkan untuk memilih calon sesuai keinginan kita.

“Tidak mungkin pak. Warga paguyuban itu banyak, tak mungkin elite politik mampu mengarahkan warganya untuk memilih seseorang. Jangankan cuma sekedar ngomong, disuappun belum tentu bisa”, ujarnya lagi.

Supardi sendiri mengakui jika dirinya telah memiliki keyakinan pilihannya sendiri yang tidak ada satu orangpun boleh mempengaruhinya.

“Saya memang tinggal dan hidup di Sumsel. Saya merasakan betapa besar manfaatnya Sumsel dalam kehidupan saya. Namun saya hanya merasa berhutang budi kepada Sumsel, bukan kepada seseorang. Saya justru harus bertanggung jawab terhadap masa depan rakyat di propinsi ini karena saya sudah merasa memiliki. Yang akan saya pilih pasti yang terbaik untuk sumsel”, ujarnya menambahkan.

Ujang Hapid, seorang warga asla Jawa Barat juga mengaku sangat tidak senang dengan sikap para elite paguyuban yang mengatasnamakan warga paguyuban menyatakan dukungan kepada salah satu bakal calon.

“Bagi kami warga jawa barat, hidup di rantau itu mesti tahu diri. Kami hanya datang untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kami tidak mau terlibat dalam perpolitikan. Politik bukanlah jiwa kami, karena politik itu bisa jahat dan menghalalkan segala cara. Warga jawa barat tahunya hidup tenang, tak mau ikut-ikutan”, tambahnya.

Jadi jika warga asal jawa barat digiring kepada salah satu calon, maka ini sudah merupakan suatu kesalahan besar yang dibuat elite paguyuban. Justru paguyuban bisa pecah atau bubar.

“Masalah siapa pilihan, bagi kami itu adalah hak kami yang tak seorangpun boleh tahu”, ujarnya. Lihat saja nanti.

Menurut Ujang, memang wajar jika elite paguyuban pasundan meminta warga pasundan untuk memilih calon tertentu, karena mereka semua adalah kaki tangan dan pejabat yang hidup dari calon tersebut.

“Kalau jagonya kalah pasti terlempar. Makanya mereka mati-matian mencari dukungan agar jagonya menang dan jabatan dia bisa aman’, ujar warga tersebut.

Bakal Dipermalukan

Seorang pakar politik di Palembang memprediksi para Elite Paguyuban bakan dipermalukan oleh warganya sendiri jika mereka tetap berani mengatasnamakan paguyuban mendukung seorang calon.

“Paguyuban bukanlah organisasi yang memiliki kesamaan visi politik. Paguyuban hanya wahana silaturahmi dan budaya semata. Jadi salah besar jika paguyuban diarahkan untuk kepentingan politik”, ujar dosen politik di salah satu PTS di Palembang ini.

“Habis Pilkada akan banyak paguyuban yang bubar akibat pengurusnya merasa dipermalukan oleh anggotanya”, ujarnya lagi.

Nah. Jika demikian adanya, kita lihat saja. Yang jelas manusia bukanlah bebek. Manusia punya hati nurani. Apalagi kini sudah jaman maju. Hanya orang yang terbaik yang akan jadi pilihan.

ALEX NOERDIN ANTI PREMANISME

Sumatera Selatan dalam lima tahun terakhir ini mengalami perubahan yang sangat besar. Namun bukan saja dalam hal-hal yang positif, ternyata perubahan besar itupun terjadi padal hal-hal yang sangat negatif.

Salah satu hal yang sangat negatif yang kini telah berkembang dan bertendensi merusak tatanan adalah munculnya kalangan preman dalam lingkungan pemerintahan. Bahkan kehadiran mereka bukan sekedar mempengaruhi melainkan sudah ikut mengatur kekuasaan serta mengeruk banyak keuntungan. Kini seorang preman, terutama pemimpinnya, derajat sosial maupun kekayaan yang dimilikinya sudah bisa menyamai seorang pejabat tinggi. Jika ini tetap dibiarkan maka dikhawatirkan akan merusak tatanan masyarakat dan berdampak pada pemikiran generasi muda yang mengarah kepada pola premanisme.

Kemunculan preman secara terbuka di lingkungan pemerintahan dimulai sejak Syahrial duduk di kursi Gubernur. Padahal dimasa Rosihan Arsyad preman tak punya tempat sama sekali. Saat itu Syahrial bergantung kepada mereka dalam rangka mengamankan jabatannya dari pihak-pihak yang merongrong. Mahasiswa dan LSM yang biasa berdemo bisa dengan mudah dibungkam dengan kekuatan preman. Wartawan yang mau mengungkap sebuah penyelewengan jabatan juga dapat begitu saja tunduk dikaki sang preman. Dengan kata lain Preman mampu mengatasi semua masalah seorang pejabat. Asal ada uang.

preman.jpg

Akibat hal tersebut peran preman semakin besar dan luas. Setiap pejabat dibawah Gubernur juga meniru langkah atasannya memanfaatkan jasa preman untuk mengamankan jabatan.

Setelah preman diberdayakan selanjutnya preman meminta jasa dengan cara meminta diberikan kesempatan untuk mengatur dan bermain proyek. Alhasil, proyek-proyek umumnya dikuasai preman.

Dalam setiap kegiatan tender, peran preman sangat dominan dan berkuasa. Preman tak segan-segan melakukan kekerasan untuk menguasai sebuah paket proyek atas pesanan pihak tertentu. Bahkan seperti yang terjadi di lingkungan Dinas Diknas Sumsel, seorang preman sampai berani melakukan pemukulan dan merobek-robek dokumen penawaran seorang kontraktor yang mau ikut tender. Saat itu polisi yang sengaja didatangkan untuk mengamankan tender sama sekali tak berbuat apa-apa. Polisi pun nampaknya takut dengan preman.

Demikian pula di dinas-dinas lainnya. Dinas PU yang terkenal sangat angker dan rawan kekerasan. Preman menjadi pengendali sepenuhnya. Pihak Dinas PU sendiri nampaknya senang dengan keberadaan mereka.

Jika hal ini terus berlangsung maka sangat berbahaya dan merusak tatanan yang ada. Predikat pemerintah preman telah melekat dan terus meningkat. Kekerasan menjadi pilihan yang dianggap sah.

“Gawat pak, sekarang cara berpikir masyarakat kita jadi bergeser. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi belum tentu bisa sukses. Lebih baik berguru ilmu kebal dan jadi preman. Pasti sukses dan kaya raya”, ujar seorang mahasiswa Palembang yang mengaku khawatir dengan keadaan saat ini.

Seorang ibu rumah tangga juga mengaku sangat khawatir karena anaknya yang menginjak remaja tak mau lagi sekolah. Alasannya adalah untuk apa sekolah cape-cape, lebih baik jadi preman bisa kaya, bisa berkawan dengan gubernur, kawan pejabat.

Kekhawatiran tersebut sangat beralasan dan juga banyak dirasakan masyarakat lainnya, terutama kalangan pengusaha kontraktor yang biasa tender proyek.

Alex – Eddy Anti Preman

Namun masa kejayaan preman di Sumsel akan segera berakhir jika saja Alex Noerdin terpilih menjadi Gubernur. Hal ini disebabkan Alex tidak akan pernah memberikan kesempatan kepada preman untuk masuk ke lingkaran pemerintahan, apalagi ikut mengatur atau menguasai.

Sikap anti preman sudah lama diterapkan Alex. Di kabupaten Muba preman sama sekali tak bisa masuk. Alex tetap menerapkan aturan yang ada dan tidak menggunakan preman untuk mengamankan jabatan.

“Kami tidak takut dengan preman”, ujar seorang karyawan pemkab muba yang mengaku pernah didatangi preman saat ia duduk di kepanitiaan lelang untuk minta proyek, namun ia tegas menolaknya.

Selain Muba, kabupaten yang sama sekali menolak kehadiran preman dalam mengatur proyek adalah kabupaten OKU. Preman sama sekali tak diberi muka. Pemkab OKU bersikeras untuk tidak melibatkan kekerasan dalam menghadapi setiap permasalahan. Justru siapapun yang menggunakan cara preman akan dijauhkan dari lingkungan Pemkab OKU.

“Eddy Yusuf tidak senang jika ada orang luar ikut ngatur-ngatur. Apa lagi preman”, ujar seorang karyawan pemda.

Nah jika nanti Sumsel akan menerapkan pola seperti di Muba dan OKU maka ucapkan saja “Selamat Tinggal Preman !””.

Alex Noerdin dan Eddy Yusuf Mendapat Dukungan Besar

Pasangan Cagub dan Cawagub Sumsel yang bakal tampil pada Pilkada 2008 mendatang, Alex Noerdin dan Eddy Yusuf semakin mantap untuk maju pada perebutan Kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel pada Tahun 2008 mendatang.

tokoh.jpg

Hal ini didukung oleh semakin mengkristalnya dukungan dari masyarakat terhadap pasangan ideal tersebut.Selain dukungan penuh dari warga kabupaten Muba dan Kabupaten OKU (Termasuk OKU Timur dan OKU Selatan), pasangan ini juga langsung mendapat banyak dukungan dari berbagai kelompok masyarakat dan organisasi-organisasi massa dan kepemudaan yang ada di Sumsel.

Beberapa tokoh masyarakat Sumsel menyatakan tekad untuk mendukung pasangan ini karena dianggap sangat tepat untuk memimpin Sumsel kedepan. Demikian juga dengan beberapa Ormas dan LSM yang ada di Sumsel. Mereka juga menilai bahwa Alex-Eddy memang sangat tepat karena mereka berpengalaman dan berhasil dalam membangun daerah.

Mahasiswa Dukung Alex Jadi Gubernur

mahasiswa.jpg

Kelompok mahasiswa yang menamakan diri Forum Mahasiswa Untuk Sumsel Cerdas (FMUSC) menyatakan diri mendukung Alex Noerdin dan Eddy Yusuf untuk maju pada Pilkada 2008 mendatang.

Dukungan ini disampaikan setelah pihaknya melakukan berbagai kajian dan melalui musyawarah anggota yang secara bulat memberikan dukungan kepada Alex Noerdin sebagai calon Gubernur pilihan mahasiswa.

“Apalagi jika Alex berpasangan dengan Eddy Yusuf, maka sangat paslah untuk memimpin propinsi ini. Mereka berdua adalah pemimpin yang sangat peduli dengan pendidikan. Kapabelitasnya sudah tidak diragukan lagi”, ujar Ketua FMUSC menegaskan.

Untuk itu ia juga meminta agar seluruh mahasiswa di Sumsel agar secara sukarela mendukung pasangan ini demi kemajuan masa depan pendidikan di Sumatera Selatan.